Salam, Selamat Datang Calon Penghuni Surga

Pages

Jumat, 25 September 2015

Puisi Nasionalis - Ibu Pertiwi

Ibu, Kami datang...!!!
Ibu, Ibu pertiwiku
Rahimmu telah melahirkanku,
Air susumu ialah lautan harapan penghidupanku,
Pelukmu ialah rindang hutan berbentang

Ibu, Ibu pertiwiku
aku tumbuh bersamamu
Kau nyanyikan sebait kidung kedamaian
Siul nyiurmu, adalah citra budi Tuhan

Ibu,
Dimanakah dirimu?
Kami lapar, ibu..
Aku rindu air susumu
tempat persemaian benih-benih masa depan

Kami lapar ibu..
Ludah penguasa adalah asam yang menghunus lambungku
Janjinya serapah,
Sabdanya sampah

Ibu, Aku ingin bersujud, bersimpuh,
kembali di sela jemari retakmu
meminta izin berperang

Ibu, Ibu pertiwiku
Kamilah cendekiawan,
Insan-insan bernpaskan Ilmu Tuhan
Tuk perangi zaman edan


Created by : Fitria Rizky Sutrisna

Senin, 07 September 2015

Puisi Islami - Selamat Pagi (Hijrahku)


.....


Minggu, 07 Juni 2015

Penguasa Hatiku

Dari : Budak belia tanpa nama


Bintang yang bersinar di setiap langkahku.

Ciptaan Sang Maha Kuasa yang megah hatinya.

Budak cintamu ini selalu basahkan bibir dengan doa. 
Oh, Penguasa hatiku yang berada di angan sana.
Tunjukkanlah rupamu pada bingkis waktu yang merdu.
Yang harum jika nafasmu yang memanggilku.
Yang merdu jika syairmu membelaiku.
Budakmu ini kian resah menunggu.
Oh, Penguasa hatiku, ciptaan Tuhan yang megah hatinya.
Relakah dikau saat airmata jatuh mengganggu teja yang hiasi senja?
Relakah ketika hamparan bintang terusir oleh jeritan keresahanku?
Relakah jika sampai bagaskara ragu untuk menyinari hari karena mendungnya jiwaku?
Oh, Penguasa hatiku yang megah hatinya.
Seorang budak sedang berlutut pada kesedihan- meronce aksara- disaksikan Tuhan.
Adakah dirimu masih tanpa ketegasan untuk memerdekakanku?
Ampunilah jiwaku yang menginginkan tahta suci untuk mencintaimu, karena megahnya hatimu.
Oh, Pujangga . Ajari aku untuk mengakhiri bait layaknya melodi di akhir lagu.
Sungguh .. Oh sungguh aku tiada ingin mengakhirinya atas nama cintaku padamu, penguasa hatiku, bintang siang malamku.


Created By : Fitria Rizky Sutrisna

Selasa, 22 Juli 2014

Puisi - Engkau Pertama

Seperti sedih ,
Netraku tak kuasa menanggul arusnya lagi dihadapan bahagia
Kau datang sebagai pemeran utama dalam lelap juga terjaga ku
Tak ada keputusan pertalian, namun teristimewanya engkau saat kusebut namamu mantap pada-Nya,
"Bahwa aku cinta"

Pertama engkau, engkau pertama, 
Memporandakan kesedihan meski dalam diam
Kau gantikan puisi cinta kami yang lalu dengan sekelebat tatapan matamu
Secepat kilat aku mau! 
Ibarat rangkaian kata, munajat ku berpindah obyek dengan keterangan yang lebih indah
Akankah kau teguh , anak muda??
Ini masih seperseribu jalan

Created By : Fitria Rizky Sutrisna


Prosa - Dia Itu...

 “Belum pernah kucoba ukur derajad suhu di akhir-akhir malam ini, namun angin yang berlalu bak sembilu menembus lapisan lemak di ariku” Ucap gadis itu lirih.
Duduk dengan kaki menggantung pada jembatan kayu yang hampir rapuh di pantai selatan, didekap malam yang sungguh dingin. Ia melamun dengan mug berisi teh panas di genggamannya.
5th yang lalu,
“Ibumu pergi! Ayah tak bisa menjaganya dengan baik!” Kata ayah gadis itu.
“Aku memang ditakdirkan down syndrome dan bisu. Rangkaian kataku hanya berhenti di kalbu dan sesekali kugoreskan dalam tulisan dengan lemah. aku tidak bisa mendebat ayah mengenai kemana Ibu pergi. Ke alam baka? Atau ke ujung dunia?” – “Yang jelas, ayah berjanji untuk tidak membagi-bagi cinta ayah padaku. Sudah cukup pekerjaan ayah yang menjadi perampok waktu kami. Dan ayah telah menipuku dengan memeluk mesra wanita itu di stasiun” Batin gadis itu dengan kacau.
“(Pluk-Byur )” . Dinginnya air di laut selatan itu mungkin sama seperti laut Bosphorus, dengan cepat memecah mug panas yang dijatuhkan gadis itu, akibat perubahan suhu yang mendadak.
“TEPAT SEKALI” Gadis itu tersenyum puas melihat mug keramiknya yang pecah berkeping-keping.
Dari kejauhan didengarnya hentakan kaki berlari kencang seperti hampir merobohkan jembatan tua itu. Dengan lantang ia berteriak, “DIA IBUMU, NAK…….!!”

Gadis itu tersenyum mendengar suara lantang yang menggetarkan air laut yang telah masuk di lubang telinganya.

Created : Fitria Rizky Sutrisna