Salam, Selamat Datang Calon Penghuni Surga

Pages

Minggu, 30 Maret 2014

Cerpen Terkasih - Tak Harus Memiliki




_11 Maret 1991_
Tugas yang tega menarik ulur waktu. Datang dan pergi sepanjang waktuku. Kini aku tlah memasuki semester 7. Semakin terasa berat tugas yang harus ku tempuh.
 Berasal dari sebuah desa di  kabupaten kecil, aku merantau seorang diri demi menempuh belajarku dan mengejar gelar sarjana yang aku idamkan.
Tak mampu aku berkencan dengan malam yang penuh gemerlap bintang.  Setiap malam-malam ku biarkan bermain sendiri karena aku tlah disibukkan dengan tugas-tugas akhir.
Esok ada ujian. Kegiatan malam ini adalah menjadi layaknya seorang dalang yang melek semalam suntuk untuk membawakan lakon pewayangan. Namun lakon yang kubawakan hari ini adalah tentang Administrasi Negara.
Suasana kota Malang yang menyemburkan hawa dingin, membuatku nyaman dalam dekapan selimut kesayangan.
 “(tok..tok..tok) Dik Anik.. Sudah tidur??” Tiap kali tetangga kamar sebelah mengetok dinding kamarku yang terbuat dari triplek dan menanyakan keadaanku. Namanya Mbak Susi. Ia adalah mahasiswa kedokteran semester 5 se-Universitas denganku.
“Belum mbak, masih belum selesai” Teriakku dari dalam kamar.
Pertanyaan itu akan kami ulang setiap 15 menit sekali. Jika ada salah satu yang tak kuat melanjutkan belajar, pasti akan berpamitan terlebih dahulu sebelum beranjak tidur.
Sungguh hari-hari unik yang membuat letih. Tak ada bedanya antara jurusan FIA dengan Kedokteran jika dalam semester akhir seperti ini. Semua mampu membuat masalah kerontokan rambut semi permanent.
***

_26 Mei 1991_
Bau asap sisa pembakaran solar merajam rongga dada. Bau keringat yang bercampur persis bau amonia. Berada di dalam bus terasa berada dalam ruang penyekapan yang dicampuri gas bius yang mungkin mampu membuat pingsan penumpang hanya dalam beberapa jam kedepan.
            Sisi yang paling tidak menguntungkan menjadi sosok yang berpostur mungil yaitu akan kalah jika berdesakan di angkutan umum yang jahat ini. Orang-orang tak mau peduli sebelum mampu meletakkan pantatnya di bangku bus. Andaikan ada yang mau menoleh ke bawah sedikit saja, pasti akan kukatakan “Maaf, saya bukan barang bawaan yang pantas ditendang-tendang” sambil nyengir semanis-manis nya.
            Nasib mahasiswi semester akhir yang telah disibukkan dengan tugas dan persiapan menyusun skripsi. Demi menebus rindu pada orang tua, aku rela diinjak-injak dan tak diorang-kan, padahal aku masih memakai jas almamater tercinta, Universitas Brawijaya.
2 jam berlalu. Otot kaki mulai terasa kaku. Keringat berjatuhan sebesar butiran jagung. “Jika harus berdiri selama 3 jam kedepan, sambil menggendong ransel seberat ini,kuyakin tinggi badanku semakin berkurang saja” Tak hentinya batin ini menggerutu.
“Mbak, silakan duduk. Meski sempit, setidaknya bisa mengurangi rasa capai mbak.” Kalimat halus yang terlontar dari seorang abdi negara. Berseragam lengkap dengan gantungan lencana di dadanya. Badge di sisi lengannya menunjukkan ia seorang TNI AD.
Dengan segera kubalas tawarannya yang telah kutunggu-tunggu sejak tadi.
“Terimakasih Pak.” Senyum sopan kuarahkan padanya.
“Mbak kuliah? Jurusan apa?”
“Jurusan Administrasi Negara Pak.” Jawabku canggung dan tersipu.
“Wah, hebat. Enak ya bisa kuliah. Mbak pasti orang pintar bisa kuliah di Universitas Negeri. Tidak seperti saya yang tidak bisa melanjutkan kuliah”
Tuturnya sopan dan lembut. Membuatku tak segan menjawab obrolan darinya.
“Ah, biasa saja Pak. Meski tidak kuliah, tapi kan anda sudah menjadi ABRI. Tentu terjamin masa depannya.”
“Iya sih mbak. Saya masuk TNI  juga karena otak saya yang kurang mampu melanjutkan kuliah, sehingga ayah membawa saya dalam bidang ini. Panggil saja saya Mas Dwi. Namanya siapa mbak? Turun di mana nanti?“
“Nama saya Anik Wahyudiati. Biasa dipanggil Anik. Turun di Tulungagung mas.”
Obrolan kami hangat dan sangat sopan. Meski di tempat yang tidak menyenangkan, namun perkenalanku dengannya mampu menghibur perjalanan pulang kali ini.
Saat bus akan memasuki kota Blitar dan memaksanya bersiap meninggalkan jejaknya di bus, ia berkata bahwa ingin kembali ke Malang dan berangkat bersamaku dari terminal Tulungagung. Mungkin karena kesopanannya dan melihat ia benar-benar seorang Abdi Negara, membuatku tak meninggalkan rasa curiga padanya. Justru perasaanku senang dan aman jika berteman dengan seorang tentara. Hingga akupun meng-iya-kan jua tawarannya.
Sisa perjalanan menuju kampung halaman kulalui seorang diri. Yang kubayangkan adalah senyum hangat dan penuh rindu orang tua, juga sisa senyum sopan dari sosok tentara itu yang masih melekat tipis di ingatan.
***
Kehangatan suasana rumah yang penuh akan rindu. Aku pulang membawa berjubel pengalaman.
Detik jarum jam berlalu manis. Tak terasa waktu akan merenggut kebersamaanku dengan keluarga tercinta yang telah kuhabiskan selama satu pekan. Melihat tugasku yang antre seperti memanggil-manggil namaku untuk segera dirampungkan dan kembali ke kampus.
Di sisi lain pikiran kikuk terngiang. Aku ingin menyudahi pakansiku karena ingin bertemu dengannya lagi. Bersama senyum sopan serta perisai kelembutan di raut wajahnya.
“Sampun siap-siap, nduk? Jangan lupa bawa beras yang cukup. Ibu pikir kamu akan lama tidak pulang karena sibuk dengan skripsimu. ” Pesan Ibuku penuh perhatian .
“Sampun buk. Ibuk baik-baik ya di rumah. Doakan Anik selalu.” Jawabku dengan raut memelas nan manja memohon restu Ibuku tercinta.
“Nduk,Apa kamu tidak punya teman yang sama-sama berangkat ke Malang?”
Sebuah pertanyaan yang terlontar itu sempat membuatku terkejut. Kurasa ada ikatan batin antara seorang ibu dan anaknya yang melekat kuat.
Aku belum cukup mental untuk bercerita. Pertemuan itu adalah yang pertama. Aku takut jika Ibu malah mengkhawatirkanku.
“Emm.. Ada buk, tapi bukan teman kuliah Anik”
“Lho.. Lantas siapa?” Wajah Ibu manggambarkan raut penasaran.
“Anik bertemu dia di bus. Seorang TNI muda yang baik budinya.”
“Oh, rumahnya mana? Namanya siapa? Jadi, dia dinas di Malang? Pertanyaan beruntun dan masih dengan raut penasaran namun terselip senyum tipis membuatku sedikit tersipu.
“Namanya Dwi. Rumahnya Blitar buk. Kebetulan juga sedang libur dan ada saudara di Tulungagung. Ia kembali ke Malang besok pagi. Jadi dia mengajakku berangkat bersama dari terminal Tulungagung.”
Raut penasaran mulai pudar dari wajah Ibu. Senyum hangatnya mulai merekah. Memang selama ini belum pernah aku memiliki teman dekat seorang pria, dan mengingat aku telah cukup umur.
Di sorotan rembulan kupanjatkan doa untuk kepergianku esok pagi. Salam dari Ibuku jua harus kusampaikan untuk Mas Dwi. Diiringi gemuruh rindu akan pertemuan yang semoga masih saja sehangat pancaran mentari pagi.
***
“Selamat bekerja duhai mentari. Hangatkan senyumku yang akan kukirim padanya dan jua yang akan kutinggalkan untuk keluarga terkasih. Jangan kau  redupkan sinarmu sebelum aku mampu bersinar secerah wajahmu hari ini.” Sepenggal doa yang kubisikkan dari dalam hati.  Mengiringi suap demi suap sarapan yang terhidang di meja makan. Air mata menetes lembut tanda beratku meninggalkan keluarga.
“Pak, Buk. Anik berangkat. Doakan Anik lancar di semester akhir ini. Doakan Anik lulus dengan nilai yang memuaskan”
“Iya nduk. Hati-hati di jalan ya. Pandai-pandailah membagi waktu. Memohonlah tanpa henti pada Gusti Allah demi kelancaranmu. Bapak Ibu akan terus berdoa dari sini. Bapak yakin kamu mampu mengemban amanah dan membanggakan keluarga “ Petuah yang dilontarkan Bapak sungguh membuat hati bergetar. Kecup yang kutempelkan pada tangan kedua orangtuku membuat haru pecah.
Di luar rumah, adik telah bersiap mengantarku ke terminal. Ransel perbekalan yang kembali penuh kugendong mesra. Lambaian tangan menari tanda salam perpisahan.
“Selamat tinggal kembali gubuk permaiku Berikan kedamaian mesra untuk malaikat-malaikatku”
***
Eraman suara bus  terdengar keras. Kepul asap dan hiruk pikuk penumpang tak terhindarkan. Telah kulemparkan pandangan di tiap sudut terminal namun tak kudapati sosok yang kutunggu. Jarum jam berlari, dan jarum pendek rehat di angka 7.
“Dik Anik” Suara yang terdengar sayup dari arah belakang. Dengan segera diriku memutar badan untuk mencari sumber suara itu.
Postur tegap dengan seragam lengkapnya telah memecah penantianku.
“Mas Dwi. Aku kira mas tidak akan datang. Waktu semakin siang, aku takut tidak kebagian tempat duduk lagi di bus.”
“Maafkan aku Dik Anik, tadi komandan menelpon mas dan ada utusan mendadak.” Wajahnya terlihat menyesal karena telah membuatku menunggu lama.
“Oh, tak apa mas. Jadi berangkat ke Malang sekarang kan?”
“Iya dik, mari kita cari bus yang sedikit longgar”
Sepanjang jalanku hangat dengan obrolan manis. Perjalanan paling tak membuat bosan selama hidupku. Jiwaku terasa ada yang mendekap penuh wibawa.
Setelah 4 jam berlalu. Kota tujuan telah di depan mata. Kami turun di terminal Arjosari, kota Malang. Perjalanan menuju kost harus kutempuh dengan angkutan kota. Mas Dwi masih setia menemani sisa perjalananku. Ia sengaja ikut agar tau dimana aku tinggal.
Sesampai di depan kost, harus kuterima masa manisku bersama  Mas Dwi harus berakhir .
“Kuharap bisa bertemu denganmu lagi Dik Anik, tak lama dari sekarang. Aku akan segera berkirim surat untukmu ” Kalimat perpisahan yang begitu manis terucap darinya.
“Kuharap juga demikian mas. Terus terang aku senang bisa kenal dengan mas. Selamat berjuang mas. Aku akan sabar menunggu kabar dari Mas Dwi.” Jawabku seraya berat melepas kepergiannya.
***
“Beberapa bulan lalu aku berangan tentang kehadiraan seseorang yang aku inginkan. Mengapa hingga kini pikiranku masih melayang penuh kesejukan? Mengapa senyumnya begitu mampu terekam sempurna dalam angan? Benarkah kali ini aku telah menemukannya?” Tanyaku dengan diri sendiri dalam lamunan kecil di sela belajar.
“(Tok..Tok..) Mbak Anik, Surat kecil untukmu!  Wah tumben benar Mbak dapat surat.” Ledek Susi sambil menyerahkan surat yang digenggamnya. Aku hanya mampu tersipu mendengar ledekannya.
Kuamati amplop putih nan wangi yang terdapat lengkungan pita biru itu, namun tak kudapati tulisan tentang siapa pengirim surat tersebut. Hatiku berdebar, tak ada yang terbayang dalam pikiran selain nama Mas Dwi.
Kubuka perlahan sambil sesekali mencium aroma wangi yang menyelimuti surat tersebut. Tak salah lagi, sebuah surat yang menanyakan kabar dan ajakan untuk bertemu, tertanda salam rindu dari Mas Dwi.
Perasaan yang sungguh jarang kurasa. Jiwaku terbang dalam ayunan sajak kalimat dalam suratnya. Senyumku merekah sewangi suratnya.
“Ya Allah perasaan ini sama seperti binar indah di raut bintang yang sedang berkedip mesra. Ya Allah benarkah aku jatuh cinta? Jika benar, Ridhailah apa yang aku rasakan ini.” Lantunan doa kupanjatkan di sujudku. Semoga perasaan bahagia ini berjalan  indah.
***
_15 Juni 1991_
Minggu pagi yang cerah bersama sejuta dentum jantung yang tak wajar. Di taman kota, janji Mas Dwi ingin bertemu denganku seperti yang telah dituliskan dalam surat kecilnya untukku pekan lalu.
Di tengah taman, disamping air mancur telah kudapati ia disana. Jantungku berdebar hebat. Langkahku semakin mendekati sosoknya. Semakin jelas kupandang air mukanya, namun ia belum sadar akan kehadiranku.
“Mas Dwi” Sapaku lembut. Ia sedikit terperanjat mendengar suaraku yang tiba-tiba di sela gemericik suara air mancur.
“Oh dik, bagaimana aku tak  sadar akan kehadiramu. Mungkin aku terlalu sibuk mendalami indahnya taman bunga ini.” Tuturnya seraya menjabat tanganku dengan tawa kecil di wajahnya.
“Hehe, mas apa sedang libur kok sempat mengajakku bertemu disini?” Tanyaku dengan perlahan duduk di sampingnya.
“Iya dik. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” kalimatnya terputus, membuatku penasaran akan apa maksud darinya. Tiba-tiba keringat dingin mengucur. Detak jantung semakin mendobrak dadaku.
Belum sempat aku menanyakan maksud darinya, ia melanjutkan perkataannya lagi.
“Adik seseorang yang ramah, sopan, namun tetap asik. Entahlah, meski kita masih sedikit intensitas bertemu, namun setiap pertemuan kita selalu meninggalkanku kesan kagum. Jujur, aku mengajakmu bertemu, karena rindu dengan obrolan kecil kita. Sebelumnya aku memang belum pernah menanyakan tentang pribadimu, jadi misalkan adik tak berkenan dengan perkataanku ini, tolong maafkan aku.”
Perkataannya terjeda lagi. Sorot matanya lurus menangkap sorot mataku. Keringat masih deras mengucur, begitu pula dirinya. Aku sadar akan kegugupannya saat berkata tadi, namun ia cukup kuat menatapku untuk membuktikan kesungguhannya.
“Maafkan aku Dik. Aku menyayangimu. Adik sangat berbeda, dan aku menginginkanmu untuk menjadi kekasihku”
Begitu terperanjat hatiku. Jantungku seperti berhenti berdetak. Semua yang ada di sekitarku seperti berhenti beraktifitas . Aku tak mampu mendengarkan suara gemercik air mancur maupun suara transportasi yang berlalu lalang. Mataku melongo seketika. Bunga-bunga bermekaran di alam bawah sadarku. Beberapa detik pandangan kosong dan tak percaya. Hingga kudengar suara lembut yang menyusul lamunanku.
“Dik..”
“Iya mas..” Jawabku gugup terbata-bata.
“Kenapa adik melamun dan tak membalas ungkapan perasaanku??” Tanyanya sembari melempar senyum padaku kembali.
“Jujur. Aku masih sendiri mas. Namun adakah waktu yang demikian singkatnya mampu menghipnotis hingga kita dipertemukan dengan perasaan yang sama?” Jawabku tersipu sesekali memandang kerlingnya.
“Terimakasihku pada Tuhan telah mempertemukan kita dik. Aku ingin selalu bersamamu Dik Anik”
Tangannya perlahan mendekap tanganku. Masih di bawah gemericik air mancur dan sorotan mentari yang mulai berjalan kecil menuju pusar langit, kami berjalan di sekeliling bunga nan mekar mewangi. Baunya seharum perasaan yang kini berkutat di benakku.
***
Minggu demi minggu berlalu. Masih menempel setiap memory yang terlukis bersama Mas Dwi. Mengobrol bersama, bercanda bersama, berjalan-jalan di sorotan  lampu alam entah dalam naungan dewi malam ataupun raja siang. Banyak hal yang kami lalui yang membuat hatiku bersorak bahagia.
Tugas tak bosan-bosan meramaikan hari-hariku. Lari-larian menemui dosen yang begitu memperbudak menjadi makanan sehari-hariku.
Cukup jauh jarak membatasi kami dalam menjalin sebuah hubungan tali kasih. Kesibukan masing-masing  juga memaksa kami untuk jarang bertemu.
Di sebuah malam minggu yang hangat. Kali ini nihil akan tugas. Bersama teman-teman kost menghabiskan malam dengan sendau gurau di ruang keluarga. Di malam minggu seperti ini hanya ada 2 tamu istimewa yang kami tunggu. Jika bukan kekasih yang ingin mengajak kencan, ya tukang pos sebagai wakil dari kekasih yang tak sanggup datang secara langsung.
Kali ini, kurasa aku menunggu pilihan kedua. Pekan lalu, Mas Dwi sudah berpamitan lewat surat yang dilayangkannya bahwa pekan ini tak bisa berkunjung karena tugas militer yang mendesak.
“Dik Anik… Surat untukmu.!!” Teriak Mbak Nunik dari serambi rumah.
Dengan segera aku menjemput suratku. Pak Pos memang menjadi tamu kehormatan setiap anak kost. Kedatangannya disambut mesra nan hangat layaknya menyambut kekasihnya sendiri, terlebih di kost putri.
Surat kecil bernada sarat akan rindu darinya. Membaur bersama dengan gejolak rinduku padanya jua. Sari kata yang tergores meresap lembut dalam jiwa yang sendu sepi. Ia bekerja untuk Tanah Air. Sangat bangga kurasa memiliki kekasih sepertinya. Desah angin Kota Malang semoga larut dan menyapa dirinya di sana dengan mengalirkan rindu yang maha agung.
“Aku mencintaimu, Mas” Bisikku sembari erat memeluk selembar kertas penuh makna  tersebut.
***
19 Mei 1992
Setahun sudah hubunganku mengalun indah bersama Mas Dwi. Banyak intrik yang tergambar di dalamnya.
Hari ini ­­­­Mas Dwi mengajakku berjalan di sebuah Mall di kota Malang. Ajakannya bisa dikatakan tiba-tiba.  Entah apa yang membuat hatiku tak berkenan bertemu dengannya, namun aku tak mampu menolak.
“Sebelumnya mas selalu mengabariku jika ingin mengajakku pergi. Dan tak biasanya mas mengajakku di hari aktif seperti ini. Untung saja aku sedang tak ada jadwal kuliah. Mas juga sedang tak ada dinas?” Pertanyaanku heran atas pertemuan yang kesekian kali ini.
Perasaanku mengatakan ada ekspresi gundah yang sedang disembunyikan dalam hati Mas Dwi. Di restoran tempat biasa kami berkencan, baru kali ini aku merasakan perasaan yang masam dan aneh.
“Mas..” Panggilku sedikit keras karena Mas Dwi tak menjawab pertanyaanku dan lebih memilih meluruskan pandangannya pada sebuah gelas kaca yang membisu.
Dengan perasaan terkejut ia lantas­ memandang mataku.
“Aku bingung Dik..”
“Ada apa sih mas? Bingung kenapa? Sahutku membentak.
“Pekan depan ada ujian kenaikan pangkat.”
“Lalu? Bukankah seharusnya mas menyambutnya dengan antusias?”
“Aku tidak akan dibolehkan untuk naik pangkat oleh atasanku, dik..”
“Dengan alasan?” Tanyaku menyelidik
Mas Dwi tidak menjawabnya dengan segera, dan membiarkan beberapa detk waktu diisi dengan kekosongan.
“Tidak akan diperbolehkan jika aku tak menikahi anaknya”
Badai hati mengguncang dengan tiba-tiba. Antara kaget, sedih, kecewa, bercampur aduk. Namun aku harus menyembunyikan raut bingungku.  Beberapa menit diriku terhenyak dalam naungan badai ini. Pandangan kami saling kosong. Mulutku tak mampu berkomentar sebelum nyeri di ulu hati ini sirna.
“Dik, kau tak apa? Aku menyayangimu Dik.” Katanya lirih sambil mencoba meraih jemariku yang membeku.
“Mas, aku tak punya apa-apa selain kasih tulus. Menjadi ABRI adalah sumur penghidupan Mas. Aku akan melepamu mas. Berdamailah dengan keputusan atasan mas, pun juga keputusanku. Mas tak mungkin akan melepas ladang emas yang telah kau impikan sejak dulu. Jangan bodoh mas.”
Dengan tak sadar bibir ini mampu terangkat dan tersenyum, namun konsekuensi dari senyum itu adalah air hangat yang jatuh perlahan membasahi lesung pipiku.
“Yakinkah adik dengan keputusan yang singkat itu?” Tanyanya kembali.
“Aku yakin mas. Tak perlu mas mempersulit keadaan ini, karena aku tau mas tak mungkin melepas jabatan mas. Aku mengerti mas. Jangan mas hambat pengertianku. Aku menyayangi mas. Hargailah bukti sayangku ini dengan melepasmu segera.”
Berperang dalam hati terasa lebih berat dan sakit daripada berperang dalam medan pertempuran. Mungkin itu yang dirasakan Mas Dwi saat beberapa menit terdiam dan terisak. Genggamannya menutup sebagian raut yang basah akan air mata. Hatiku semakin tersayat dibuatnya.
“Aku tak mengira semua ini akan terjadi. Aku berpikir atasanku menyayangiku dengan cara yang salah, sungguh sangat salah. Tolong maafkan aku, dik”
“Seharusnya kau bangga mas. Tak ada yang harus disalahkan. Aku mempercayai kasih sayangmu. Tuhan yang telah memperjalankan semua ini.” Hiburku untuk batinnya yang sendu.
“Mas, sabarlah. Maafkan dirimu yang sempat menyalahkan takdir Tuhan. Mari kita merenung, berdoa untuk satu sama lain” Lanjutku.
Perjalanan menuju kost kulalui dengan perasaan yang tak mampu kuungkap lagi. Air mata tak henti mengalir. Hatiku menangis tanpa arah hingga ku tak mampu mendengar apa yang ada di sekitarku karena lamunanku yang demikian panjang.
***
Seminggu berlalu. Surat demi surat yang dikirim Mas Dwi tak kubalas. Hatiku belum kuasa membalas salam darinya. Sedikit kecewa dengan diri sendiri yang justru meladeni ego.
Di dalam balutan gerimis, sore ini aku ingin menelepon kantor Mas Dwi. Aku tau hari ini dia sedang tidak ada tugas karena libur Nasional. Niatku untuk meminta maaf atas sikapku akhir-akhir ini. Mungkin juga sebagai salam perpisahan dengannya. Hatiku sungguh pilu mengingat kejadian minggu lalu.
Ini adalah pertama kali aku menggunakan jasa telepon umum. Berkali-kali aku menghembuskan napas panjang untuk mempersiapkan diri.
“Hallo,  Selamat sore. Kodam V-29. Ada yang bisa saya bantu? ”
“Selamat sore. Bisa bicara dengan Mas Dwi Budi?”
“Lho, ini mbak Anik ta?  Aku Setyo. Mbak enggak tahu kabar tentang Mas Dwi?”
“Oalah, Mas Setyo. Lho, memang ada apa mas? Mas Dwi kemana?”
Hatiku berdegup kencang. Kulit tipisku merinding tiba-tiba mendengar ucapan Mas Setyo yang kaget nan menggebu.
“Ya ampun mbak. Mas Dwi hari ini menikah. Semua pegawai sedang mendatangi resepsinya sekarang di JL. Ijen, rumah komandan Mas Dwi. Ini aku sedang piket. Apa mbak tidak diundang? Mbak kesana saja segera”
Pecahlah tangis yang selama ini ingin ku bendung. Seperti ada yang mencabik-cabik ulu hatiku. Tanganku lemas menggenggam gagang telepon hingga tak terasa telah jatuh menggelantung. Tubuhku layu dalam pelukan tiang biru penyangga telepon umum itu. Mengapa ia harus menyembunyikan semua ini padaku?
Setelah tersadar kuraup segera gagang telepon yang jua nampak bergelantung lemas. Masih kudengar suara Mas Setyo yang memanggil namaku.
“Hallo mbak? Mbak tidak apa-apa?”
“Iya. Oh tidak apa-apa kok Mas. Terimakasih atas informasinya. Aku akan segera kesana Mas. Assalamualaikum.” Suaraku bergetar menjawabnya.
Bersama Niken. Adik angkatanku yang setia menemaniku, kami-pun melaju menaiki angkutan umum .
Tenda biru mewah sudah dihadapanku meski dalam pandangan jarak jauh. Aku tak melihat dengan jelas mempelai, namun dalam anganku nampak jelas raut pujaan hatiku yang duduk bersandingan itu. Dirinya yang aku idam-idamkan. Yang seharusnya akulah yang duduk di sampingnya.
Suhu tubuhku dingin. Pandanganku tak ubahnya pandangan kosong pasien rumah sakit jiwa. Tubuh mungil ini gontai tak berdaya mendekati kuade megahnya.
Tiba saatku mengucapkan selamat untuk moment kabahagiaan mereka. Betapa terkejutnya wajah Mas Dwi melihat kedatanganku. Tangannya kaku berkeringat mejabat tanganku. Tak ada yang terucap dari mulutnya. Hanya pandangan bingung itu yang telah mengisyaratkan perkataan “Mengapa kau ada di sini?”.
Kedatanganku justru hangat disambut rekan kerja Mas Dwi. Dengan lembut mereka menepuk bahuku yang rapuh . Tak ada kata selain harus bersabar dan menerima kenyataan.
***
20 Juni 1992
“Mengalirlah wajar, rasaku.. Sayangku, ambisiku yang menggebu sungguh sangat menyesatkanku. Aku berjalan lepas penuh kepercayaan diri. Aku tak tahu ada jurang di depanku, lalu aku terperosok, jatuh dan sakit.
Oh jiwaku yang kesakitan, seharusnya engkau wajarkan rasamu. Tuhan yang akan merangkulmu.”
“Dik Anik, surat untukmu” Teriak Mbak Susi.
Aku menghentikan jemariku yang sedang asik menulis dan bergegas menjemput surat itu. Hati kecil bertanya siapakah sosok pengirim surat itu.
“Untukmu Dik Anik,
Sungguh aku tak wajar dalam mencintaimu dan memimpikanmu. Aku tak tau jalan hidupku akan se-dilema ini. Hingga detik ini, aku hanya mencintaimu. Seharusnya engkau dik, seharusnya engkau. Aku tidak mencintai isteriku. Aku terpaksa harus memunggungi lelapnya. Aku tak mampu Dik. Maafkan aku, agar aku tenang.”
Sepucuk surat balasan kutuliskan dengan penuh ketenangan setelah kubaca surat darinya. Hanya berisi satu kalimat untuknya.
“Maaf, Engkau Hanya Belum Terbiasa”.

Created By : Fitria Rizky Sutrisna

Cerpen Terkasih - Di Balik Selimut Adat




Sangat  mudah bagi Sakti Mahardika, remaja berumur 21 th yang menempuh pendidikan kedokteran di Universitas ternama di Bandung, untuk berdialog langsung dengan dekan fakultas, Prof.Dr.Hilmawan mengenai Tugas Ahir yang akan ditempuhnya.
 “Seperti yang pernah saya jelaskan, setelah lulus S1, saya akan mengambil spesialis herbal. Saya percaya bahwa masih banyak orang yang tinggal di pedalaman menggunakan racikan obat herbal yang diwariskan nenek moyang mereka terdahulu. Sedikit banyak saya telah mempelajari teori menyangkut herbal yang dikombinasi dengan teknologi. Saya hanya ingin kroscek tentang apa-apa saja yang orang pedalaman gunakan sebagai obat, dengan Ilmu kedokteran yang telah diuji secara sah. Karena tidak sedikit yang mereka gunakan obat, ternyata mengandung Narkotika yang tidak mereka sadari. Dokter pasti mengerti maksud saya.”
“Niat yang bagus. Saudara telah memikirkan resikonya? Kebanyakan suku pedalaman hidup liar.”
“Saya memiliki niat yang baik Dok. Saya juga mengajak saudara Reza sebagai teman. Saya akan mencari tempat tinggal yang aman. Menurut saudara saya yang tinggal disana, meski suku itu masih sangat menghargai leluhur dan banyak peraturan adat, namun mereka masih menerima teknologi.”
“Baik. Namun karena ini misi yang berat, saudara harus menghadap langsung Rektor. Pihak Universitas tidak semudah itu bertanggungjawab apabila terjadi sesuatu. Waktu saudara 3 bulan sebelum menandatangani surat keberangkatan. Pikirkan matang-matang.”
“Saya mengerti Dok. Terimakasih” Jabat tangan keduanya mengakhiri pembicaraan . Sakti segera meninggalkan ruangan. Hatinya cukup puas akan respon Dr.Hilmawan yang seakan menyetujui keberangkatannya.
***
Pekan ketegangan masih berselubung di Fakultas Kedokteran. Hiruk pikuk mahasiswa semester akhir yang mengajukan surat ijin menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak yang kalut, karena mereka tidak mungkin sekedar melakukan tugas ecek-ecek. Apabila tidak mampu menciptakan penemuan, paling tidak harus melakukan penelitian yang tidak murahan.
Dua pekan kemudian, Sakti dan Reza berangkat menuju perkampungan yang telah direncanakan. Merupakan perjalanan jauh. Pesawat-kendaraan darat-sampan, dijajal satu persatu oleh mereka. Menghabiskan waktu 8 jam untuk benar-benar sampai di lokasi tujuan.
Suasana hijau  nan asri khas aroma hutan, namun tidak mencekam seperti yang sempat terbersit di benak keduanya. Kicau burung senantiasa ramah menyambut kedatangan mereka. Di pikiran mereka adalah masyarakat yang memakai baju “alami”, tinggal di rumah seadanya, dupa-dupa di tiap sudut. Ternyata mereka salah. Tidak ada bedanya dengan suasana perkampungan normal, hanya saja ini terletak di dekat hutan.
“Seberapa pedalamankah  mereka? Tidak kulihat suatu yang janggal” Bisik Sakti pada Reza saat berjalan kecil menyusuri kampung itu.
“Ini pertama kali kedatangan kita, tidak bisa dengan mudah kita menilai. Sebaiknya kita segera bertemu kepala suku. Orang-orang mulai menatap kita dengan aneh.”
            Sakti mengiyakan perkataan Reza. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memegang pundak Sakti. Kecepatan jantungnya mungkin naik karena kaget. Sakti-pun berbalik, diikuti Reza.
            “Orang Jawa?” Tanya orang asing itu singkat.
            “Ya, benar. Mohon maaf sebelumnya. Kami berniat baik, dan ingin menemui kepala suku kampung ini.” Jawab Sakti tegas meski diliputi perasaan tegang.
            “Tidak perlu gugup. Perkenalkan, saya
Samangun. Saya-lah kepala suku kampung ini.”
            Sakti sempat tidak percaya. Penampilannya perlente, memakai seragam PNS. Nampaknya juga tidak menyeramkan. Beliau ramah.
            “Oh, senang bertemu anda”
Sakti tersenyum sambil berjabat tangan. Begitu juga Reza.
            “Mari singgah dulu dirumah saya. Tidak enak berbincang disini”
            Sambutan hangat dari Bapak Samangun memecah keresahan. Rumah beliau tidak jauh dari tempat perbincangan mereka.
            Rumah sederhana namun memperlihatkan kesan eksotik dengan ornament khas Kalimantan. Maklum, rumah kepala suku, pasti terlihat lebih menonjol dibanding yang lain.
            “Lalu, ada perlu apa di kampung ini? Anda seorang mahasiswa? Apakah ada semacam penelitian?” Tanya Pak Saman
gun beruntun di ruang tamu, seraya disuguhi air nira oleh gadis cantik yang keluar dari arah belakang rumah.
            “Benar. Kami adalah mahasiswa kedokteran. Maksud kedatangan kami untuk mempelajari obat-obat herbal yang digunakan di kampung ini, yang akan kami cocokkan dengan Ilmu yang telah kami pelajari. Saya lihat daerah sini masih sangat alami.” Jelas Sakti
            “Baik. Kurasa kalian harus tinggal beberapa minggu. Namun ada beberapa syarat bagi orang asing yang ingin tinggal disini
. Oya, panggil saja saya Papak”
“Syarat apa itu Pak?” Reza menyahut.
”Tidak berbeda dengan kampung-kampung lain yang didatangi orang asing. Kalian harus bersikap baik dengan warga sekitar. Namun jangan teralalu terbuka saat berbincang dengan orang selain papak. Kedua, kalian jangan keluar rumah diatas pukul 6 sore. Ketiga, banyak gadis di kampung ini. Jangan sampai kalian tertarik atau menarik gadis tersebut. Kulihat kalian adalah pria yang pandai dan menarik. Jadi jagalah sikap kalian.”
Peraturan yang wajar. Namun peraturan ketiga sedikit membuat keduanya mengernyit. Namun niat mereka bukan untuk mencari cinta. Keduanya pun mengangguk dan siap menaati peraturan.
Malam pertama tinggal di daerah pedalaman. Suhu kira-kira mencapai 20°C. Malam yang hanya Sakti dan Reza gunakan berunding akan rencana esok sambil bernaung di balik sarung yang dipinjamkan Papak. Rasa capai raga dan pikiran mengantar mereka tidur di kamar kayu yang penuh kehangatan.
***
Oksigen pagi terasa sesegar angin surga. Suara kental perkampungan yang tak biasa Reza dan Sakti dengarkan setiap paginya jika berada di kota besar. Ayam berkokok bersahutan.
            Sarapan telah terhidang rapi di meja makan setelah mereka selesai membersihkan diri.
            Hidangan
 istimewa yang mereka nikmati tak tersisa sedikitpun. Sakti dan Reza melanjutkan misi untuk pergi ke hutan. Papak dan Mamak mengijinkan mereka pergi sendiri, asal tidak sejauh 2 km dari kampung.
            Menyusuri lebat hutan, disorot matahari yang masih berdiam di timur. Warga asli banyak yang mencari kebutuhan sehari-hari langsung di hutan itu.
            Ada sekitar 15 jenis tumbuhan obat yang mereka temukan.Tumbuhan yang sangat jarang ditemukan di kota. Pasti akan menjadi ekspedisi hebat mereka.
            Sepanjang jalan kembali menuju kampung. Reza menanyakan sesuatu yang aneh.
“Sakti, kamu melihat tidak gadis yang ada dirumah Papak?”
”Gadis yang membawa air nira dulu?”
”Iya. Kenapa ia tak muncul lagi ya? Bukankah itu anak Papak? Aku sesekali melihatnya, lalu kembali lagi di kamarnya. Tadi juga tidak diajak sarapan. Padahal aku
 tau dia yang memasak makanannya.”
”Pembantunya mungkin?” Jawab Sakti.
”Ah kamu ini. Cantik sekali,masih muda juga. Usianya mungkin masih 17 tahun.” Reza menyanggah.
”Kamu tak ingat pesan Papak dulu?”
”Ya ingatlah! Aku kan Cuma berbagi cerita. Mungkin saja kau suka. Kulit putih, rambut panjang, sorot mata menawan. Asal tidak bolong belakangnya.”
”Hus. Jangan bicara aneh-aneh di hutan belantara seperti ini”
Penelusuran mereka berhasil. Setelah berdialog dengan tabib setempat, hasil analisisnya hampir sama. Memang tabib itu terlihat sakti. Hanya saja ada sedikit perbedaan tentang cara mengonsumsinya sebagai obat. Padahal apabila tidak dengan cara yang benar, banyak tumbuhan yang diantaranya bersifat memabukkan dan berdosis tinggi. Namun tabib itu mengaku bahwa tidak ada kasus keracunan dan sejenisnya, karena pasti ada upacara tertentu sebelum proses meminum ramuan. Dari sinilah mungkin kekuatan gaib terbaca. Semuanya masih mengandung unsur dinamisme meski warga di sini telah memiliki agama. Di rumah sang tabib justru mereka banyak diberi ramuan-ramuan lain yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Merupakan suatu keuntungan apabila berhasil membawa pulang obat baru yang akan mereka uji secara klinis nantinya.
            Menjelang sore, mereka bergegas pulang. Mengingat harus segera tiba sebelum pukul 6. Di malam kedua mereka mulai mengerjakan hasil penelitian yang pertama. Masih dalam suasana sunyi dibalik tembok kayu.
Hari-hari berikutnya masih mereka isi dengan penelusuran. Tidak hanya tabib sebagai subjek, namun juga masyarakat sekitar.
***
Saat itu Papak dan Mamak sedang pergi ke kota. Ternyata benar perkiraan Reza, bahwa gadis itu anak Papak Samangun. Setelah 2 pekan Sakti dan Reza tinggal di rumah kepala suku itu. Baru kali inilah gadis itu mau muncul dan berbincang. Karena adat ia menutup diri dari orang asing. Namun gadis itu melek pendidikan. Ia lulusan SMA ternama di kota. Sebenarnya ia risih dengan kehidupan adat yang kaku. Ia ingin seperti remaja pada umumnya. Ia juga ingin melanjutkan kuliah, namun Papaknya melarang. Apalagi ia gadis semata wayang ketua suku. Gadis bernama Bethari itu menceritakan banyak hal tentangnya atau tentang kampungnya. Hingga tak terasa malam menyambut kehangatan pembicaraan mereka.
            Sebuah pertanyaan yang tak mampu dibendung Sakti adalah mengapa orang asing tak boleh tertarik atau menarik gadis kampung itu. Padahal bila harus diakui, gadis-gadis di kampung itu sangat menarik dan cantik alami.
            “Hanya agar pewaris suku adalah warga asli. Sehingga budaya tidak akan hilang disamping perkembangan jaman yang menggelora. Sebenarnya tidak terjadi apapun saat aku pernah jatuh hati dengan teman sekolahku kak. Papak saja yang terlalu kaku. Budaya boleh ditegakkan, namun hak untuk mencintai merupakan hak individual kan. Aku sendiri belum berani mengemukakan ini semua pada Papak”
Sakti kagum akan pola pikir gadis ini yang fleksibel, namun juga benar. Malam yang tidak sedingin biasanya merayu Reza dan Sakti untuk tidur setelah puas berbincang dengan gadis 18 tahun itu.
***
Hari ke 5 setelah kepergian Papak dan Mamak membuat Reza, Sakti dan Bethari semakin akrab. Kisah & sejarah yang didongengkan Bethari malah membuat bahan tulisan Sakti semakin berkembang. Cukup lama di kampung itu tak hanya obat herbal yang Sakti dan Reza teliti. Secara kebetulan mereka mempelajari psikologi dan cara berpikir orang pedalaman dan mengenai dinamisme yang kental.
Ternyata Bethari merupakan gadis terpandai di kampungnya. Ialah yang mengajarkan baca tulis anak yang dikatakan kurang mampu untuk sekolah di kota. Dia juga sangat antusias mempelajari buku-buku milik Sakti. Merupakan kesempatan sebelum orang tuanya kembali pulang.
Hari-hari berlalu dengan saling bertukar pikiran antara keduanya. Meski dengan gadis lulusan SMA, pembicaraan ilmiah mereka terus berkecambuk indah.
“Apa yang kupikirkan ini ya Za?” pertanyaan aneh Sakti pada Reza di larut malam.
”Maksudmu apa? Oh..oh.. Kurasa aku tau alasannya bila anak muda seusiamu mulai berkata aneh. Kau jatuh cinta?”
”Bagaimana kau langsung menuduh seperti itu?” Sakti menyahut cepat.
”Itu kata buku psikologi” Jawab Reza tenang sambil melanjutkan tugas yang digarapnya.
”Jarang ada gadis pedalaman yang antusias akan pendidikan. Semoga aku hanya kagum.”
”Kamu tak ingat pesan Papak dulu?” pertanyaan yang sempat Sakti tanyakan dulu diulang oleh Reza dengan nada bicara menyindir sambil terkikik.
”Kenapa aku jadi seperti orang bodoh mendadak. Ya Tuhan...” Sakti resah.
”Orang sejenius engkaupun juga akan bosan jika terus berpacaran dengan pelajaran. Kedokteran menuntut kita untuk mengoptimalkan otak kiri, namun jangan lupakan otak kanan yang menstimulasi perasaan.”
”Kapan kita pulang Za? Hatiku resah.”
”Kita akan pulang bila waktunya pulang. Maafkanlah dirimu!”
Entah merupakan musibah atau anugerah saat di suatu pagi Reza tak sengaja menemukan tulisan Bethari yang tertinggal di meja makan. Menceritakan kekagumannya pada seseorang. Orang itu tak lain adalah Sakti. “Besok Papak Mamak pulang. Mereka tak boleh tau, atau aku dan Sakti kena kutukan. Ah, apa yang kukatakan ini!” Reza mulai panik.
Reza tak berniat menceritakannya pada Sakti. Namun justru Sakti-lah yang bercerita bahwa siang tadi Bethari mengungkapkan rasa kagum padanya.
            “Sebagai pria yang jantan, aku akhirnya juga mengaku Za.” Sakti bercerita dengan mimik yang lemas tak berdaya.
            “Dia sangat bahagia saat akupun mengaku akan perasaanku. Padahal aku sangat ingat syarat yang dikatakan Papak dulu. Namun ia meyakinkanku bahwa tak akan terjadi apa-apa. Sekali lagi ini hanya kepercayaan, Bahwa gadis yang menikah dengan bukan warga asli, tidak akan hidup sejahtera. Kata Bethari, itu bukan alasan logis. Bethari ingin melanjutkan belajar Za, tidak tertutup dengan adat. Ia ingin belajar bersamaku” Tambah Sakti.
“Bagaimana dengan Papak? Bagaimana cara mengatakannya? Usiaku sudah 26 th, dan aku belum menikah. Aku tak ingin kena kutukan!” Jawab Reza
”Jangan berkata bodoh! Aku akan mengatakannya besok Za.” Kata Sakti mantab.
Do’a, dzikir, dan munajat Sakti kali ini khusus ditujukan untuk Bethari. Berharap pintu cinta mereka terbuka dengan indah. Kekaguman Sakti pada Bethari adalah karena rasa ingin tahunya akan dunia pendidikan yang kuat. Sulit mencari celah bagi Sakti untuk mencintai seseorang, namun Bethari yang tlah membuka celah itu. Sayang sekali jika benih seperti ini teronggok di pedalaman yang tak terendus. Sakti ingin mengajaknya belajar bersama. Sehingga Bethari mampu menjadi jembatan pembuka pola pikir kampungnya yang terkadang masih kolot. Karena adat bukan alasan untuk tertutupnya dunia pendidikan yang luas.
***
Papak dan Mamak tiba di rumah dengan selamat. Sakti dan Reza menyambutnya dengan hangat. Bila mereka telah melepas rasa penat paling tidak besok Sakti akan menjelaskan apa yang telah ia dapatkan dan rasakan. Suasana rumah kembali seperti saat pertama Sakti datang. Bethari banyak menghabiskan waktu di kamar.
Satu bulan sudah Sakti dan Reza menetap di rumah Papak Samangun. Tugas sudah hampir selesai, tinggal finishing untuk hasil terbaik. Namun Sakti tak akan pergi sebelum mangatakan tentang perasaannya tentang Bethari.
 Pagi yang mendung seakan juga ikut merasakan kegelisahan Sakti. Saat Papak duduk di teras sambil memandang langit, Sakti memberanikan diri untuk berbicara. Reza hanya mengawasi di balik jendela seraya melantunkan doa.
“Papak. Apa yang akan terjadi jika saya tertarik pada salah satu gadis di kampung ini?”
Papak tampak sangat kaget mendengarkan pertanyaan Sakti.
”Anak muda, apa kau lupa akan syarat yang Papak katakan padamu!” Nada bicaranya sedikit tegas.
”Maafkan saya Pak. Saya terpaksa melanggar hal itu. Dan menerima apapun yang akan terjadi. Bukan hanya tertarik. Saya jatuh hati kepada Bethari, anak Papak.”
“Apa yang telah kau lakukan pada anakku!” Pak Samangun beranjak dari duduknya.
”Tidak Pak. Saya berani bersumpah tidak melakukan apapun. Saya melihat Bethari adalah gadis yang sangat pandai. Saya ingin mengajaknya menimba Ilmu bersama. Saya mengaguminya. Seharusnya Papak tidak mengunci mimpinya.”
”Tahu apa kau anak muda? Saya adalah orang terhormat di kampung ini. Saya telah menjodohkannya dengan warga suku asli kampung ini, yang juga merupakan anak orang yang terhormat. Mereka akan menjadi pewaris suku yang tepat. Bukan orang asing sepertimu.”
”Papak, Bethari sangat menyayangi Papak dan Mamak. Bethari menyayangi Kak Sakti untuk belajar. Untuk memajukan kampung kita Pak. Bethari tak ingin Papak membatasi hak Bethari” Sahut Bethari memelas yang ternyata mendengarkan pembicaraan Sakti dengan Ayahnya.
”Tidak anakku. Kau tidak mungkin menikah dengannya” Papak menunjuk Sakti.
”Jangan memperpanjang masalah ini anak muda. Saya akan cukup sabar jika kau menghargai adat kami.” Tambah Papak pada Sakti.
Mamak yang jua mendengarkan semua ini hanya mampu menangis melihat anak gadisnya terpuruk.
***
Bethari gadis yang kuat. Ia yakin akan cintanya pada Sakti. Ia berjanji akan berusaha melunakkan hati Papaknya. Sakti dan Reza tak mungkin menunda kepulangan setelah kejadian panas kemarin. Maka hari ini mereka memutuskan pulang. Mereka berterimakasih akan semua yang telah diberikan keluarga Papak. Namun Papak justru pergi dan tak ingin mereka pamiti. Tak lupa Sakti berpamitan pada Bethari. Air mata tumpah tanda perpisahan. Namun Sakti berjanji akan kembali apapun yang terjadi.
Tugas Akhir Sakti dan Reza berhasil diselesaikan dengan baik. Kepuasan dan kesedihan dirasakan bersamaan oleh Sakti. Memikirkan cintanya yang termenung di pedalaman.
Satu bulan kemudian,sebuah kabar mengejutkan melanda Sakti. Kampung tempat tinggal Bethari mengalami tanah longsor hebat. Korban jiwa berserakan. Kampung itu tlah hancur. Niat Sakti untuk pergi ke kampung itu sangat kuat. Ia ingin menjenguk Bethari dan membantu warga lain sebagai tenaga medis.
Kampung yang telah banyak berubah sepeninggal Sakti. Hampir semua rata oleh tanah. Kondisi Rumah Papak rusak parah. Untung keluarga Papak selamat. Sangat miris melihat kondisi Bethari. Kakinya tertiban saka kayu. Lukanya hanya ditutup oleh daun antiseptik. Namun menurut Sakti, luka itu telah mengalami tetanus karena tak segera disentuh medis. Tak ada jalan lain bagi Sakti selain membawa Bethari ke Rumah Sakit.
“Meski harus diamputasi, Bethari tetap gadisku yang cantik dan tegar.” Suasana haru yang membuncah tak menyurutkan kasih suci Sakti. Reza dan teman-teman lain yang ikut menjadi relawan tak kuasa melihat ketegaran temannya itu. Kaki kanan tinggal separuh. Sedang kaki kiri juga harus diamputasi seperempat bagian. Meski tak lagi rawat inap di Rumah Sakit, namun kondisi Bethari masih melemah.
“Pak, sorotan mata Bethari masih menunjukkan semangat, namun tubuhnya lemah untuk bergerak.” Diagnosa Sakti dikemukakan pada Papak dan Mamak untuk sekedar menenangkan hati mereka. Secara tiba-tiba Papak merangkul Sakti dan mengajaknya ke teras untuk membicarakan sesuatu.
“Nak Sakti. Bukan hanya kondisi putriku yang membuat hati Papak tidak karuan. Keluarga pria yang telah kujodohkan dengan Bethari enggan menerima kondisi Bethari yang saat ini cacat. Jika ada gadis yang tidak menikah, suku kampung ini akan terus mengalami musibah. ” Papak bercerita sambil terisak-isak.
“Bukan karena adat atau kepercayaan. Agama juga telah mengatur akan jodoh Pak. Menikah akan barokah asal dilandasi dengan ketulusan. Dan hal itu tak bisa dikekang oleh adat. Saya menepati janji saya Pak, saya akan menerima Bethari meski dengan kondisi seperti itu.”
Papak memeluk tubuh Sakti dengan tangis yang pecah. Ia terharu akan cinta Sakti yang tulus. Secara tak langsung juga telah merubah pola pikir Papak Samangun. Sakti berjanji akan kembali setelah menyelesaikan semester akhir kuliahnya.
***
Niat kembali untuk membahagiakan gadis yang dicintainya terpendam sudah. Kondisi Bethari kian memburuk di ruang ICU. Situasi perkuliahan tak mampu ditinggalkan Sakti. Andai Bethari bisa mendengarkan sayup suara Sakti, tentu akan sedikit memompa detak jantungnya yang melemah.
Dua hari kemudian Sakti baru sampai di Rumah Sakit tempat Bethari dirawat.
“Ia gadisku yang cacat namun sempurna. Ia telah membeku. Kecantikan yang pucat. Napas yang tak berhembus. Sorot mata yang kosong. Mari kita belajar sayang..
            Lihat, aku menangisimu. Kau lampu penerang belajarku untuk melihat adat  yang gelap. Cinta kita tak dibatasi adat, itu katamu. Kenapa kau tertidur? Mari kita belajar sayang..
            Kepandaianmu yang telah membiusku tuk mencintai sgala yang kau miliki. Kau jembatanku dalam merubah pola pikir keluargamu, kampungmu, wargamu yang terpaku adat. Bangun! Mari kita belajar sayang..”


Created By : Fitria Rizky Sutrisna