Yang kau sebut bidadari api, siapa??
Yang kau sebut Dewi Mata Pedang, siapa?
Yang kau sebut permaisuri tengik, siapa?
Perebut tahta cinta, mungkin kiranya.
Nyanyikan saja tasbih pagi, teman..
Inilah nyanyiannya :
"Mandilah engkau, dengan air mata kedamaianku, agar tak membakar kekasihku.
Bungkuslah lekukan teja itu, dengan sehelai kain surgaku, agar tak membuat kekasihku ternoda.
Taburlah seroja di tajukmu, agar kekasihku damai dalam kelopak bungamu,
Dan jadilah engkau Permaisuri Bermata Bidadari untuk setiaku."
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Rabu, 28 Mei 2014
Prosa - Pembunuhku kah
Aku pernah bermimpi telah menemukan sebelumnya.
Serpihan cermin bertanda polkadot merah, yang di baliknya bertuliskan AMORE.
Lalu saat kucoba bercermin, hanya mampu menampakkan lengkung bola mataku, tidak.. tidak penuh mataku.
Ada sisi kosong pada cermin itu, lalu kutemui sebentuk wajah samar dan kecil, kupastikan ia pria.
Kemudian dengan kaca itu pula kuguratkan pada nadiku.
Saat kurasa aku tlah mati, akupun terbangun.
Aku tak yakin mengenali pria itu, namun rasanya aku pernah dibuatnya jatuh hati.
Senyumnya sangat manis, namun mengapa aku lebih memilih menghentikan darah di nadiku?
Dia kah pembunuhku? Atau hanya di alam mimpi ? Atau akan ada di alam nyata?
Serpihan cermin bertanda polkadot merah, yang di baliknya bertuliskan AMORE.
Lalu saat kucoba bercermin, hanya mampu menampakkan lengkung bola mataku, tidak.. tidak penuh mataku.
Ada sisi kosong pada cermin itu, lalu kutemui sebentuk wajah samar dan kecil, kupastikan ia pria.
Kemudian dengan kaca itu pula kuguratkan pada nadiku.
Saat kurasa aku tlah mati, akupun terbangun.
Aku tak yakin mengenali pria itu, namun rasanya aku pernah dibuatnya jatuh hati.
Senyumnya sangat manis, namun mengapa aku lebih memilih menghentikan darah di nadiku?
Dia kah pembunuhku? Atau hanya di alam mimpi ? Atau akan ada di alam nyata?
Minggu, 18 Mei 2014
Sajak - Akhiri Saja
Sebungkus bungkam,
Bertalikan pitam,
Mewarna kelam, LEGAM!
Berikan nyawa, "Wahai Penguasa...."
Hadir selaksa daun angkara.
Tiada janji - Cinta yang suci.
Kini teruji - Tinta yang keji.
Alih haluan, tak terelakkan.
Dirundung malu.
Kagoknya selama ini, masam tak berpenghuni.
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Bertalikan pitam,
Mewarna kelam, LEGAM!
Berikan nyawa, "Wahai Penguasa...."
Hadir selaksa daun angkara.
Tiada janji - Cinta yang suci.
Kini teruji - Tinta yang keji.
Alih haluan, tak terelakkan.
Dirundung malu.
Kagoknya selama ini, masam tak berpenghuni.
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Minggu, 20 April 2014
Prosa - Sepi
Tidak ada yang membelaiku.
Suasana rumah pun suram, tak ada cemuit.
Apalagi saat kutengok sudut hitam di hatiku.
Sangar, bernyawa mistis.
Kidung jantungnya bak terserat darah .
Tertekan oleh kekosongan,
Mungkin sama seperti dicekik monster laut yang menyemburkan tinta racun korosif.
Kututup mata,
Berhitung 1, 2, 3, lalu tiba-tiba kudapati hadirnya.
Ahh... Imajinasi murahan.
Dia memang sudah hadir, dalam suatu relung.
Bayangannya bak lukisan mahal,
Adalah lubang berbentuk sosok manusia yang sekaligus ada, sekaligus tidak.
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Suasana rumah pun suram, tak ada cemuit.
Apalagi saat kutengok sudut hitam di hatiku.
Sangar, bernyawa mistis.
Kidung jantungnya bak terserat darah .
Tertekan oleh kekosongan,
Mungkin sama seperti dicekik monster laut yang menyemburkan tinta racun korosif.
Kututup mata,
Berhitung 1, 2, 3, lalu tiba-tiba kudapati hadirnya.
Ahh... Imajinasi murahan.
Dia memang sudah hadir, dalam suatu relung.
Bayangannya bak lukisan mahal,
Adalah lubang berbentuk sosok manusia yang sekaligus ada, sekaligus tidak.
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Senin, 14 April 2014
Puisi - Ego
Lentera kecil berkaca mendung
Rupanya ia berkaca-kaca
Tersedak kidung senandung
Rumbai hujan kawan jahatnya
Menyala jalar dimakan pupus
Ditepikan malu
lusuh tak bernyawa
Tapi, Adakah pujaan yang memetikan jalan?
Ialah setan berupa jalang
Menampis muram sungguh tugasnya
Bukanlah leram dimakan asa
Masih meretas harap dan balasan
Suratku bersurat,
"Peluk..peluklah aku.."
Ini pucat,
Iodin lawannya
Hadirkan rupa kontras jawabnya
Memang laksana neraca tak berimbang
Cintaku - Cintanya
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Rupanya ia berkaca-kaca
Tersedak kidung senandung
Rumbai hujan kawan jahatnya
Menyala jalar dimakan pupus
Ditepikan malu
lusuh tak bernyawa
Tapi, Adakah pujaan yang memetikan jalan?
Ialah setan berupa jalang
Menampis muram sungguh tugasnya
Bukanlah leram dimakan asa
Masih meretas harap dan balasan
Suratku bersurat,
"Peluk..peluklah aku.."
Ini pucat,
Iodin lawannya
Hadirkan rupa kontras jawabnya
Memang laksana neraca tak berimbang
Cintaku - Cintanya
Created By : Fitria Rizky Sutrisna
Langganan:
Postingan (Atom)