Salam, Selamat Datang Calon Penghuni Surga

Pages

Minggu, 07 Juni 2015

Penguasa Hatiku

Dari : Budak belia tanpa nama


Bintang yang bersinar di setiap langkahku.

Ciptaan Sang Maha Kuasa yang megah hatinya.

Budak cintamu ini selalu basahkan bibir dengan doa. 
Oh, Penguasa hatiku yang berada di angan sana.
Tunjukkanlah rupamu pada bingkis waktu yang merdu.
Yang harum jika nafasmu yang memanggilku.
Yang merdu jika syairmu membelaiku.
Budakmu ini kian resah menunggu.
Oh, Penguasa hatiku, ciptaan Tuhan yang megah hatinya.
Relakah dikau saat airmata jatuh mengganggu teja yang hiasi senja?
Relakah ketika hamparan bintang terusir oleh jeritan keresahanku?
Relakah jika sampai bagaskara ragu untuk menyinari hari karena mendungnya jiwaku?
Oh, Penguasa hatiku yang megah hatinya.
Seorang budak sedang berlutut pada kesedihan- meronce aksara- disaksikan Tuhan.
Adakah dirimu masih tanpa ketegasan untuk memerdekakanku?
Ampunilah jiwaku yang menginginkan tahta suci untuk mencintaimu, karena megahnya hatimu.
Oh, Pujangga . Ajari aku untuk mengakhiri bait layaknya melodi di akhir lagu.
Sungguh .. Oh sungguh aku tiada ingin mengakhirinya atas nama cintaku padamu, penguasa hatiku, bintang siang malamku.


Created By : Fitria Rizky Sutrisna

Selasa, 22 Juli 2014

Puisi - Engkau Pertama

Seperti sedih ,
Netraku tak kuasa menanggul arusnya lagi dihadapan bahagia
Kau datang sebagai pemeran utama dalam lelap juga terjaga ku
Tak ada keputusan pertalian, namun teristimewanya engkau saat kusebut namamu mantap pada-Nya,
"Bahwa aku cinta"

Pertama engkau, engkau pertama, 
Memporandakan kesedihan meski dalam diam
Kau gantikan puisi cinta kami yang lalu dengan sekelebat tatapan matamu
Secepat kilat aku mau! 
Ibarat rangkaian kata, munajat ku berpindah obyek dengan keterangan yang lebih indah
Akankah kau teguh , anak muda??
Ini masih seperseribu jalan

Created By : Fitria Rizky Sutrisna


Prosa - Dia Itu...

 “Belum pernah kucoba ukur derajad suhu di akhir-akhir malam ini, namun angin yang berlalu bak sembilu menembus lapisan lemak di ariku” Ucap gadis itu lirih.
Duduk dengan kaki menggantung pada jembatan kayu yang hampir rapuh di pantai selatan, didekap malam yang sungguh dingin. Ia melamun dengan mug berisi teh panas di genggamannya.
5th yang lalu,
“Ibumu pergi! Ayah tak bisa menjaganya dengan baik!” Kata ayah gadis itu.
“Aku memang ditakdirkan down syndrome dan bisu. Rangkaian kataku hanya berhenti di kalbu dan sesekali kugoreskan dalam tulisan dengan lemah. aku tidak bisa mendebat ayah mengenai kemana Ibu pergi. Ke alam baka? Atau ke ujung dunia?” – “Yang jelas, ayah berjanji untuk tidak membagi-bagi cinta ayah padaku. Sudah cukup pekerjaan ayah yang menjadi perampok waktu kami. Dan ayah telah menipuku dengan memeluk mesra wanita itu di stasiun” Batin gadis itu dengan kacau.
“(Pluk-Byur )” . Dinginnya air di laut selatan itu mungkin sama seperti laut Bosphorus, dengan cepat memecah mug panas yang dijatuhkan gadis itu, akibat perubahan suhu yang mendadak.
“TEPAT SEKALI” Gadis itu tersenyum puas melihat mug keramiknya yang pecah berkeping-keping.
Dari kejauhan didengarnya hentakan kaki berlari kencang seperti hampir merobohkan jembatan tua itu. Dengan lantang ia berteriak, “DIA IBUMU, NAK…….!!”

Gadis itu tersenyum mendengar suara lantang yang menggetarkan air laut yang telah masuk di lubang telinganya.

Created : Fitria Rizky Sutrisna

Kamis, 19 Juni 2014

Sajak - DBM (Dua Bola Mata)



Dua Bola Mata,
Tajam pandangnya,
Ia pemiliknya, lelakiku

Mata pedang persisnya,
Sembilu yang bernada,
Penggugah tawa peluruh duka,

Panas dingin menyapa,
Aku tetap suka,

Dua Bola Mata,
Pemecah gulana,
Berwarna merah senja,
Kadang manja dan ceria,

Dua Bola Mata,
Surga?? atau Neraka??
Iblis?? atau Dewa??
Bagaimana bisa aku suka??

Created By : Fitria Rizky Sutrisna

Puisi - Yang Sekarang Hatiku Rasakan

Yang Sekarang Hatiku Rasakan,

Yang sekarang hatiku rasakan,
Bagaikan berjalan di atas jembatan kematian
Menghantarkan pada ketersesatan nyata meski jalannya lurus
Tabir hijab hanya kosong, pastilah prasangka mereka.

Aku tahu anugerah ini tidak selalu benar
Sampai sedetik ingatannya, bertalulah jantungku
Bahaya, ini bukan anugerah, namun musibah

Lalu, tolong pegangi hatiku, bantulah menerjemahkan
Pola kalimat yang membingungkan, yang berkutat di bayang pikiranku
Siapa yang mampu menolong? Pemeran utamaku ialah engkau, mampukah?

Apa aku harus menaiki kereta yang berlawan arah darimu, kasih?
Jawablah tanyaku.



Created By : Fitria Rizky Sutrisna